TUTUR TINULAR “Bunga Tunjung Biru”

 ​

Saat matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, hari mulai gelap dan malam pun tiba, tapi tidak seperti biasanya Arya Kamandanu tidak kunjung kembali. Sambil menduga-duga, Mei Xin yang saat itu hanya bersama Panji Ketawang, begitu gelisah menantikan kedatangan suami tercintanya itu.Mei Xin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Ia hanya bisa menduga-duga, kemudian berdo’a dan berharap agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.

 Sementara itu, jauh di sudut hutan yang gelap, ada seorang laki-laki berbadan tegap yang duduk termenung di bawah pohon besar sambil membuat perapian. Laki-laki itu membakar Ayam Hutan hasil buruan untuk mengisi perutnya yang kosong, namun ia terlihat sedang gelisah dan memikirkan sesuatu.. Ya, Dialah Arya Kamandanu ia tidak habis fikir kenapa dirinya bisa sampai tersesat. Belum lagi ketika ia teringat Mei Xin dan Panji ketawang yang pasti sedang menunggu-nunggu kepulangannya.Di suatu pagi kemudian, Arya Kamandanu yang belum juga menemukan arah yang benar ke pondoknya dimana Mei Xin dan Panji Ketawang berada, semakin lama semakin jauh meninggalkan Hutan Gunung Arjuna.Hingga akhirnya ia tiba di pinggiran Hutan yang lainnya dan bertemu dengan sekelompok orang yang mencurigai gerak-geriknya.

Arya Kamandanu nampak kelelahan dan mencoba meminta ijin untuk beristirahat sejenak,namun tidak diijinkan karena daerah itu terlarang bagi pendatang baru.kemudian sekelompok orang itu meninggalkan Kamandanu, berharap agar Kamandanu mengurungkan niatnya untuk tinggal.Namun Kamandanu yang memang terlihat kelelahan, tidak memerdulikan lagi larangan laki-laki itu, ia segera turun dari punggung Kuda, kemudian menambatkan Kudanya di salah satu batang pohon.Belum selesai Kamandanu menurunkan bekal dan perlengkapan buruannya, tiba-tiba sekolompok orang yang meninggalkannya tadi berbalik arah dan langsung menyerang Arya Kamandanu Mereka mengeroyok Arya Kamandanu, menyerang membabi-buta dengan menggunakan pedang.Meski kaget, karena tidak mengira akan mendapat serangan dengan tiba-tiba, dengan sigap Kamandanu berkelit dan sesekali mengeluarkan jurus-jurus kanuragannya untuk mematahkan serangan lawan.Meski hanya dengan tangan kosong, tidak sulit bagi Kamandanu untu merobohkan beberapa orang diantara mereka.

 Melihat teman-temannya roboh, bukannya membuat orang-oarng tersebut ketakutan, tapi justru semakin membuat mereka berani dan penasaran. Mereka kemudian mencoba menghadapi kamandanu dengan satu lawan satu secara bergantian, sesekali Kamandanu juga di keroyok oleh Tiga atau Empat orang sekaligus. Tapi, lagi-lagi serangan mereka dapat dipatahkan oleh Arya Kamandanu, bahkan beberapa orang diantara mereka harus terjungkal dan berjumpalitan ketika kamadanu berganti membalas menyerang dengan jurus-jurus Naga Puspa yang dimilikinya.

 Namun meski kewalahan, orang-orang tersebut tak mau menyerah.Tak ingin lama-lama bertarung, akhirnya Arya Kamandanu melompat tinggi ke udara kemudian mundur beberapa tombak kebelakang. Segera ia mengambil ancang-ancang dan memasang kuda-kuda dengan gagahnya sambil bersiap-siap mencabut Pedang pusaka Naga Puspa yang tergantung dibalik punggungnya.”Maaf..!! Terpaksa saya mencabut pedang, supaya perkelahian kita seimbang… Ayo majulah kalian..!”Semua terperangah menyaksikan pemandangan yang terjadi didepannya, Ketika Pedang Nagapuspa perlahan dicabut dari warangkanya, seketika aura berwarna merah yang bersumber dari pedang tersebut menjalar ke tubuh Kamandanu dan menyebar sekelilingnya.Beberapa orang maju menyerang dengan menyabetkan pedangnya, saat terjadi benturan dengan pedang Nagapuspa milik Arya Kmandanu, pedang meraka menjadi patah terbelah menjadi dua.Semua ternganga keheranan, Arya Kamandanu dengan lincah kemudian memain-mainkan pedangnya yang dilambari jurus-jurus Naga puspa dengan gerakan-gerakanyang menakjubkan.Kembali Tiga – Empat orang maju secara bersamaan menyerang, tapi lagi-lagi mereka terpental kebelakang dan mendapati pedangnya yang sudah patah.Semua saling pandang satu sama lain dan tidak ada lagi yang berani maju mulai menyerang duluan, Sekali lagi, Arya Kamandanu memainkan jurus-jurus Naga Puspanya.Dengan Pedang yang ada dalam tangannya, Arya Kamandanu nampak begitu gagah sekaligus sangat mengerikan bagi musuh-musuhnya.Saat itulah, dari kejauhan nampak seorang laki-laki paruh baya yang berbadan tegap, melaju kudanya sangat kencang menuju arena pertarungan…

 Angin menderu-deru dan debu mengepul kebelakang tiap tapak kaki kuda itu melompat kembali menginjakkan kakinya di tanah..Setelah sampai pada arena pertarungan, laki-laki tegap itu segera melompat dari atas punggung kuda, berguling-guling di udara kemudian mendarat tak jauh dibelakng Arya Kamandanu yang masih memainkan jurus-jurus Naga Puspanya..” Siapa kamu…? Pamer kesaktian didaerahku..!” Laki-laki itu berkata dengan suara lantang penuh wibawa…Mendengar ada yang berteriak dari arah belakngnya , Arya Kamandanu segera menyarungkan pedangnya kemudian menoleh ke belakang.”Oh.. Gusti Ranggalawe..!!!” Sapa Arya Kamandanu yang kaget karena tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan Ranggalawe di tempat itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s